![]()
Sendawar – Batik tulis bermotif “ITAH OTUR” resmi diluncurkan Bupati Kutai Barat, Frederick Edwin, bertepatan dengan malam penutupan Festival Dahau di Taman Budaya Sendawar (TBS), Kamis (5/11/2026) malam.
Peluncuran wastra lokal tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan sekaligus melestarikan kekayaan budaya Kutai Barat. Motif ITAH OTUR merupakan karya perajin asal Kampung Intu Lingau yang dibina dan difasilitasi Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Kutai Barat.
Secara filosofis, batik ITAH OTUR merepresentasikan keanggunan, keseimbangan, keberanian, serta keharmonisan hubungan antara manusia, alam, dan leluhur. Nama ITAH OTUR juga mengandung doa dan harapan agar siapa pun yang mengenakannya senantiasa memperoleh berkat dan perlindungan dari para leluhur.
Motif tersebut memadukan sejumlah ornamen khas Kalimantan Timur, khususnya yang terinspirasi dari kekayaan alam dan adat istiadat Kutai Barat.
Anggrek hitam menjadi simbol keanggunan dan keindahan abadi. Macan dahan melambangkan ketegasan pemimpin yang mengayomi dan melindungi masyarakat. Tumbuhan pakis merefleksikan ketangguhan dan keuletan, sedangkan daun menggambarkan kesuburan tanah serta keterikatan kehidupan manusia dengan alam.
Selain itu, terdapat ornamen guci atau antakng yang merupakan benda pusaka adat dengan nilai filosofi spiritual, status sosial, serta perlambang kekuatan magis leluhur.
Dalam sambutannya, Frederick mengapresiasi Dekranasda dan para perajin lokal yang terus mengembangkan seni tradisi menjadi karya bernilai. Batik tulis Kutai Barat juga baru saja meraih Juara Harapan 3 pada ajang Dekranasda Kaltim Award 2026.
“Ini pencapaian yang sangat membanggakan. Di hari yang penuh kebahagiaan ini, seniman batik kita kembali membuktikan bahwa Kutai Barat memiliki kekayaan seni yang eksotis dan sarat makna kehidupan. Dekranasda telah hadir mewadahi sekaligus mendorong seniman lokal agar terus berinovasi menghasilkan batik tulis khas daerah,” tutur Frederick.
Ia mendorong Dekranasda untuk terus mengembangkan program kerja, memperluas promosi, serta membina perajin di kampung-kampung agar industri kreatif daerah tumbuh mandiri dan berdaya saing.
Frederick juga mengajak masyarakat Kutai Barat untuk bangga mengenakan produk wastra lokal dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk kecintaan terhadap daerah.
“Wastra daerah adalah representasi identitas diri dan martabat budaya kita. Mari kita bangga mengenakan wastra Kutai Barat, merawatnya agar terus lestari, dan menjadikannya kebanggaan bersama,” pungkasnya.
(Adv)












