![]()
Balikpapan – Bisnis kuliner di Balikpapan mulai menghadapi tantangan baru di tengah pertumbuhan industri makanan dan minuman. Jumlah transaksi meningkat cukup tinggi, tetapi kenaikan omzet tidak bergerak secepat pertumbuhan transaksi.
Data internal ESB mencatat transaksi pada outlet yang sama atau same-store di Balikpapan meningkat 16,5% secara tahunan sepanjang Januari hingga Juli 2026. Namun pada periode yang sama, omzet hanya tumbuh 3%.
Data tersebut muncul ketika sektor penyediaan akomodasi dan makan minum di Kalimantan Timur juga mencatat pertumbuhan 13,79% pada triwulan II 2026.
Pertumbuhan sektor tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan sektor penyediaan akomodasi dan makan minum secara nasional yang tercatat 10,60% pada periode yang sama, berdasarkan data BPS Kalimantan Timur yang dikutip ESB.
Di Balikpapan, ESB mencatat terdapat 100 merchant dengan 185 outlet aktif yang menggunakan sistemnya sepanjang Januari hingga Juli 2026.
Yang menarik, 37,8% merchant ESB di Balikpapan telah memiliki lebih dari satu outlet. Dalam 12 bulan terakhir, sejumlah merchant yang sudah menggunakan layanan ESB juga kembali membuka outlet baru.
Kondisi itu menunjukkan tantangan sebagian pelaku usaha kuliner mulai bergeser. Persoalannya bukan hanya bagaimana mendatangkan pelanggan, tetapi juga bagaimana mengelola bisnis ketika jumlah outlet bertambah.
Co-Founder dan CEO ESB, Gunawan, mengatakan perbedaan pertumbuhan transaksi dan omzet perlu dibaca oleh pelaku usaha sebelum melakukan ekspansi lebih jauh.
“Ketika bisnis masih satu outlet, semua bisa dipantau langsung oleh pemiliknya sendiri. Begitu outlet kedua dan ketiga mulai beroperasi, cara kerja seperti itu tidak lagi memadai. Data Balikpapan menunjukkan hal ini dengan jelas, transaksinya tumbuh 16,5%, tetapi omzetnya hanya naik 3%. Itu adalah sinyal yang perlu dibaca secara serius, bukan sekadar dirayakan. Kopdar Racik Bisnis F&B ini kami hadirkan agar pelaku usaha Balikpapan dapat berhenti sejenak, melihat datanya sendiri, dan mencari tahu apa yang perlu dibenahi sebelum membuka outlet berikutnya,” ujar Gunawan.
Menurut Gunawan, pertumbuhan jumlah transaksi tidak cukup menjadi satu-satunya ukuran ketika bisnis mulai berkembang menjadi beberapa outlet.
Persoalan stok bahan baku, harga pokok penjualan (HPP), pembelian, pembayaran, laporan operasional hingga pengawasan kinerja masing-masing outlet perlu dikelola secara konsisten.
Hal tersebut menjadi salah satu topik yang dibahas dalam Kopdar Racik Bisnis F&B Balikpapan yang digelar di Zurich Hotel Balikpapan, Kamis (24/9/2026).
F&B Educator dan Management Consultant Agung Haryadi mengatakan persoalan operasional biasanya mulai terasa ketika bisnis memasuki fase pembukaan outlet kedua atau ketiga.
“Banyak pemilik restoran baru menyadari operasionalnya mulai keteteran setelah outlet kedua atau ketiga berjalan, padahal ekspansi seharusnya direncanakan sejak sebelum outlet pertama mencapai keuntungan. Kesiapan tim, proses yang dapat direplikasi, hingga standar yang konsisten antar cabang, semua itu harus disiapkan lebih dahulu, bukan menyusul di kemudian hari,” ujar Agung.
Menurut dia, ekspansi membuat pemilik usaha tidak lagi bisa mengandalkan pengawasan langsung seperti ketika hanya mengelola satu outlet.
Standar operasional, kemampuan tim, pengendalian bahan baku dan pemantauan kinerja antar-outlet menjadi bagian dari sistem yang perlu disiapkan sebelum pembukaan cabang baru.
Dalam forum tersebut, ESB juga memperkenalkan sistem operasional yang menghubungkan sejumlah fungsi bisnis F&B, mulai dari kasir, pengelolaan persediaan dan back-office, pemesanan pelanggan, operasional dapur hingga analisis data.
Gunawan mengatakan perkembangan industri F&B di Kalimantan Timur perlu diikuti dengan kemampuan pelaku usaha membaca kondisi bisnisnya sendiri.
“Kalimantan Timur sedang tumbuh, namun yang membuat saya optimistis justru bukan angka pertumbuhannya, melainkan cara pelaku usahanya menyikapi hal tersebut. Dari acara Kopdar Racik Bisnis F&B ini, terlihat jelas bahwa mereka sudah mulai mempertanyakan soal stok, biaya, dan performa tiap outlet, bukan sekadar berapa banyak yang terjual. Kesadaran semacam itulah yang sebenarnya menentukan apakah sebuah bisnis bisa berhasil dan terus tumbuh,” tutup Gunawan.
Kopdar Racik Bisnis F&B Balikpapan merupakan bagian dari rangkaian roadshow edukasi ESB di sejumlah kota di Indonesia sepanjang 2026.
ESB menyebut kegiatan tersebut dirancang sebagai forum diskusi dan pembahasan persoalan operasional bagi pemilik maupun pengelola bisnis kuliner, termasuk usaha yang mulai melakukan ekspansi ke beberapa outlet.












