Saat CSR Perusahaan Bertemu Kebutuhan Nelayan Kariangau

Penanaman 1.000 bibit mangrove jenis Rhizophora mucronata di kawasan Pemancingan Kampung Nelayan Berdasi, Kariangau, Balikpapan Barat, Kamis (22/10/2026).

Loading

Balikpapan – Menanam 1.000 bibit mangrove bisa dilakukan dalam sehari. Namun, memastikan seluruh bibit itu tumbuh dan membentuk ekosistem pesisir yang bermanfaat bagi masyarakat membutuhkan upaya jauh lebih panjang. Di Kariangau, Balikpapan Barat, tantangan itulah yang kini harus dijawab melalui kolaborasi masyarakat dan industri.

Penanaman mangrove jenis Rhizophora mucronata berlangsung di kawasan Pemancingan Kampung Nelayan Berdasi, RT 3, Kelurahan Kariangau, Kamis (22/10/2026). Kegiatan ini digelar Karang Taruna Nusantara Maju bersama PT Interport Mandiri Utama dalam rangka Bulan Bakti Karang Taruna 2026 sekaligus memperingati hari lahir Karang Taruna ke-66.

Bagi masyarakat pesisir, mangrove bukan sekadar tanaman penghijauan. Keberadaan ekosistem ini berkaitan dengan kondisi lingkungan tempat warga menjalankan aktivitas dan menggantungkan mata pencaharian.

Ketua Kelompok Nelayan Sumber Bahagia, Rusli, sebelumnya menyoroti perubahan kawasan pesisir Kariangau yang dahulu banyak ditumbuhi mangrove. Ia menilai upaya perbaikan lingkungan belum sebanding dengan tingkat kerusakan yang terjadi.

“Kalau kita bilang tingkat kerusakan dibandingkan perbaikan itu kan nggak berimbang,” kata Rusli.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa rehabilitasi pesisir tidak cukup berhenti pada penambahan jumlah bibit. Keberhasilan juga bergantung pada kemampuan menjaga tanaman tetap hidup dan memastikan ekosistem yang dipulihkan dapat berkembang.

Dari sisi industri, Division Head CSA, Marketing & MBN Operation Director PT Interport Mandiri Utama, Wien Goerindro, mengatakan tanggung jawab perusahaan tidak hanya berkaitan dengan capaian bisnis. Kontribusi terhadap lingkungan dan masyarakat juga menjadi bagian dari praktik perusahaan.

“Keberhasilan perusahaan tidak hanya sebatas dari bisnis semata, tetapi ESG dan CSR menjadi salah satu parameter dan compliance perusahaan kepada pemerintah dan masyarakat,” ujar Wien.

Ia mengatakan mangrove menjadi salah satu bidang yang ingin didukung perusahaan karena manfaatnya tidak berhenti pada keberadaan pohon, tetapi juga ekosistem yang terbentuk di sekitarnya.

“Tidak hanya sekadar pohon, tetapi ekosistem yang di bawahnya akan mencoba untuk hidup dan bermanfaat buat masyarakat, terutama masyarakat pesisir Kota Balikpapan,” katanya.

Wien berharap kerja sama dengan Karang Taruna, pemerintah kota, dan pemangku kepentingan lainnya dapat terus berlanjut. Dengan begitu, kegiatan lingkungan tidak berhenti sebagai agenda sesaat, tetapi menjadi bagian dari praktik bisnis berkelanjutan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Perawatan Jadi Penentu

Pentingnya keberlanjutan juga menjadi perhatian Pemerintah Kota Balikpapan. Staf Ahli Bidang Pemerintahan Kota Balikpapan, Adwar Skenda Putra, yang hadir mewakili wali kota, mengingatkan bahwa pembangunan kota perlu berjalan seimbang dengan perlindungan lingkungan.

Menurut Adwar, kemajuan kota tidak cukup dinilai dari pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Kemampuan menjaga lingkungan untuk generasi mendatang juga menjadi bagian penting dari pembangunan.

“Satu bibit mangrove yang kalian tanam hari ini dengan keikhlasan akan tumbuh menjadi pelindung bagi kota ini di masa depan. Rawatlah apa yang kita tanam hari ini, agar kelak dapat menjadi warisan hijau yang membanggakan,” kata Adwar.

Ia juga mengingatkan peserta agar bibit yang telah ditanam dirawat dan dipantau pertumbuhannya.

Pesan tersebut relevan dengan tantangan rehabilitasi mangrove: jumlah bibit yang ditanam belum otomatis menggambarkan keberhasilan pemulihan. Tanaman yang tidak terawat berisiko mati sebelum tumbuh, sehingga upaya penanaman perlu disertai pemantauan dan pemeliharaan secara berkelanjutan.

Penanaman 1.000 mangrove di Kariangau pun menjadi langkah awal, bukan garis akhir. Kolaborasi masyarakat dan industri akan benar-benar terlihat hasilnya ketika bibit yang ditanam mampu bertahan, tumbuh, dan mendukung ekosistem pesisir dalam jangka panjang.

Pada akhirnya, keberhasilan program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) di bidang lingkungan tidak semata-mata diukur dari jumlah bibit yang ditanam dalam satu kegiatan. Ukuran yang lebih penting adalah keberlanjutan perawatan dan manfaat yang dihasilkan bagi lingkungan serta masyarakat pesisir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *