![]()
Balikpapan – Bukan lagi sekadar kebun untuk memenuhi kebutuhan sayur keluarga. Lahan sekitar 1,5 hektare milik Kelompok Wanita Tani (KWT) Daun Sop Ceria di KM 21, Kelurahan Karang Joang, Balikpapan Utara, kini berkembang menjadi kawasan pertanian terintegrasi yang menghasilkan pendapatan bagi anggota.
Salah satu komoditas yang paling terasa hasilnya adalah buah naga.
Dalam satu periode panen, produksi buah naga di lahan KWT Daun Sop Ceria bisa mencapai sekitar 500 kilogram, dengan nilai penjualan sekitar Rp6 juta hingga Rp7 juta.
Hasil tersebut kemudian dikelola melalui kelompok sebelum dibagikan kepada anggota, sekaligus digunakan untuk menambah modal usaha.
Ketua KWT Daun Sop Ceria, Sanati, mengatakan awalnya kelompok lebih banyak menanam sayuran. Namun, setelah melihat potensi ekonomi buah naga, komoditas tersebut mulai dikembangkan tanpa meninggalkan tanaman pangan lainnya.

“Buah naga itu betul-betul mendatangkan hasil yang nyata. Karena panen tiap bulan, panen terus. Jadi penghasilan semakin bertambah, anggota semakin mendapatkan hasilnya,” kata Sanati saat ditemui di kawasan KAWAN PATRA, Karang Joang, Rabu (4/2/2026).
KWT Daun Sop Ceria sendiri mulai berkembang sejak 2022. Pada masa awal, aktivitas kelompok masih terbatas pada lahan kebun yang lebih kecil dengan tanaman utama berupa sayuran.
Perkembangan mulai terlihat setelah PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan melalui Integrated Terminal (IT) Balikpapan menjalankan program Corporate Social Responsibility (CSR) KAWAN PATRA atau Kawasan Taman Edukasi dan Pertanian Terintegrasi di kawasan tersebut.
Program itu dikembangkan dengan pendekatan pertanian terintegrasi, menggabungkan hortikultura, perikanan dan peternakan untuk mendorong produktivitas serta kemandirian pangan masyarakat. Pendekatan tersebut juga diarahkan untuk menjawab tantangan pertanian Karang Joang, termasuk keterbatasan air dan kondisi lahan.
Bagi Sanati, perubahan paling terasa bukan hanya pada bertambahnya fasilitas, tetapi pada kemampuan kelompok untuk mengembangkan usaha dari lahan yang mereka miliki.
“Dulu sebelum Pertamina masuk, kita memang sudah ada kelompok KWT. Tapi kita hanya punya kebun di sebelah sini saja. Begitu Pertamina masuk, kita pindah ke sebelah karena sudah dibangunkan gazebo dan berbagai macam tempat,” ujarnya.
Dukungan yang diterima kelompok antara lain gazebo, sistem penyiraman otomatis untuk tanaman buah naga, sumur gali, kolam ikan papuyu, kandang ayam petelur hingga sejumlah peralatan pengolahan pakan.
Sistem tersebut kemudian dikembangkan secara berantai.
Jagung yang ditanam kelompok dapat dimanfaatkan sebagai pakan ayam. Limbah peternakan diolah menjadi kompos untuk dikembalikan ke lahan pertanian. Sementara telur ayam juga dijual sehingga menghasilkan pemasukan tambahan bagi kelompok.
“Pokoknya kita kembalikan lagi ke tanaman. Limbahnya kita bikin kompos, kita kasih ke tanaman lagi,” kata Sanati.
Dengan pola tersebut, KAWAN PATRA tidak berhenti pada aktivitas bercocok tanam. Kawasan tersebut berkembang menjadi sistem usaha yang menghubungkan tanaman, peternakan, perikanan dan pengolahan limbah.
Program KAWAN PATRA sendiri memang dirancang Pertamina Patra Niaga IT Balikpapan untuk mendorong ketahanan pangan dan pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan pertanian terintegrasi. Program ini melibatkan KWT Daun Sop Ceria dan kelompok pembudidaya ikan di Karang Joang.
Menariknya, manfaat ekonomi bukan satu-satunya hasil yang dirasakan anggota KWT.
Sanati mengatakan sebagian hasil kebun juga dibagikan kepada masyarakat. Bahkan sejumlah tanaman sengaja ditanam di bagian luar kawasan agar warga yang melintas dapat memetik sayuran secara gratis.
“Jadi kelompok ini bukan hanya kelompok kaya, tapi kita masih bisa berbagi, masih bisa kita anggap sebagai amal ibadah,” katanya.
Selain buah naga dan sayuran, kawasan tersebut kini juga ditanami pepaya, jambu, jambu air, belimbing dan pisang.
Ketersediaan air juga menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga produktivitas lahan. KWT memiliki dua sumber air, termasuk sumur gali yang dibangun melalui dukungan program.
“Air sangat luar biasa. Ada dua sumber mata air kita. Pertama sumur gali dari Pertamina, alhamdulillah. Dipakai setiap hari, pagi sore cukup,” ujar Sanati.
Bagi Pertamina, pendekatan tersebut membuat program CSR tidak hanya berorientasi pada bantuan sarana, tetapi diarahkan pada terbentuknya kegiatan ekonomi masyarakat yang dapat terus berjalan.
Program KAWAN PATRA bahkan mendapat penghargaan dalam Balikpapan CSR Awards 2026 pada kategori Berkurangnya Kesenjangan, dengan fokus pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui KWT dan sistem pertanian terintegrasi.
Kini, hasil kebun tidak hanya menjadi sumber pangan bagi anggota, tetapi juga menjadi sumber pendapatan yang kembali diputar untuk kelompok.
Sanati mengatakan setiap pemasukan terlebih dahulu dicatat dan dibahas bersama sebelum hasilnya dibagikan kepada anggota.
“Dikumpul dulu, dibukukan dulu pembukuan keuangan. Setelah itu kita baru musyawarah dengan anggota,” katanya.
Dari kebun sayur yang sederhana, KWT Daun Sop Ceria kini memiliki model usaha yang lebih beragam. Buah naga menjadi salah satu penggerak pendapatan, sementara sayuran, ayam petelur, ikan dan tanaman buah lainnya memperkuat sumber pangan sekaligus ekonomi kelompok.
Bagi Sanati, keberhasilan itu bukan hanya soal berapa rupiah yang dihasilkan dari kebun.
“Jadi kita bisa berbagi, bisa berbagi tanaman, berbagi tumbuh sayuran, bisa berbagi menyumbang ke panti, ke mana sayuran itu,” ujarnya.
KAWAN PATRA pun menunjukkan bagaimana intervensi CSR dapat diarahkan menjadi modal tumbuh bagi masyarakat yang bukan hanya membangun fasilitas, tetapi membantu warga memiliki lahan produktif, sumber pangan, dan usaha yang menghasilkan.












