Transaksi Kuliner Balikpapan Melonjak 16,5%, Kenapa Omzet Cuma Naik 3%?

Pelaku usaha F&B Balikpapan membahas pengelolaan bisnis dan ekspansi outlet dalam Kopdar Racik Bisnis F&B, Kamis (24/9/2026).

Loading

Balikpapan – Bisnis kuliner di Balikpapan makin ramai, tetapi pertumbuhan transaksi belum otomatis membuat omzet melonjak. Data internal ESB menunjukkan transaksi pada outlet yang sama naik 16,5% secara tahunan sepanjang Januari hingga Juli 2026, sementara omzet hanya tumbuh 3%.

Perbedaan pertumbuhan tersebut menjadi salah satu gambaran perubahan yang dihadapi pelaku usaha makanan dan minuman ketika bisnis mulai berkembang dan jumlah outlet bertambah.

Di tingkat Kalimantan Timur, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum memang sedang tumbuh. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sektor tersebut tumbuh 13,79% pada triwulan II 2026, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan sektor yang sama secara nasional sebesar 10,60%.

Di Balikpapan, ekspansi usaha juga mulai terlihat. Berdasarkan data ESB, terdapat 100 merchant dengan 185 outlet aktif yang menggunakan sistem ESB sepanjang Januari hingga Juli 2026.

Dari jumlah tersebut, 37,8% merchant sudah memiliki lebih dari satu outlet. Sejumlah pelaku usaha yang sebelumnya telah menjalankan bisnisnya juga kembali membuka outlet baru dalam 12 bulan terakhir.

Co-Founder dan CEO ESB Gunawan mengatakan selisih antara pertumbuhan transaksi dan omzet perlu dibaca sebagai persoalan bisnis, bukan sekadar angka pertumbuhan.

“Ketika bisnis masih satu outlet, semua bisa dipantau langsung oleh pemiliknya sendiri. Begitu outlet kedua dan ketiga mulai beroperasi, cara kerja seperti itu tidak lagi memadai. Data Balikpapan menunjukkan hal ini dengan jelas, transaksinya tumbuh 16,5%, tetapi omzetnya hanya naik 3%. Itu adalah sinyal yang perlu dibaca secara serius, bukan sekadar dirayakan,” ujar Gunawan.

Menurut dia, persoalan pengelolaan bisnis menjadi lebih kompleks ketika jumlah outlet bertambah. Pemilik usaha perlu memastikan stok bahan baku, harga pokok penjualan atau HPP, pembelian, pembayaran hingga laporan operasional antarcabang tetap terkendali.

Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Kopdar Racik Bisnis F&B Balikpapan yang digelar ESB di Zurich Hotel Balikpapan, Kamis (24/9/2026).

Forum tersebut mempertemukan pelaku usaha makanan dan minuman untuk membahas persoalan operasional yang muncul ketika bisnis berkembang dari satu outlet menjadi beberapa cabang.

F&B Educator & Management Consultant Agung Haryadi mengatakan persoalan operasional sering kali baru terasa setelah sebuah usaha membuka cabang kedua atau ketiga.

“Banyak pemilik restoran baru menyadari operasionalnya mulai keteteran setelah outlet kedua atau ketiga berjalan, padahal ekspansi seharusnya direncanakan sejak sebelum outlet pertama mencapai keuntungan,” ujar Agung.

Ia menyebut kesiapan tim, proses kerja yang dapat direplikasi, serta standar pelayanan dan operasional yang konsisten antarcabang perlu dipersiapkan sebelum ekspansi dilakukan.

Pertumbuhan sektor kuliner Kaltim berlangsung di tengah meningkatnya aktivitas pariwisata, perhotelan, industri dan investasi. Kondisi tersebut membuka ruang bagi bisnis makanan dan minuman, termasuk di Balikpapan yang menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi di Kalimantan Timur.

Namun, bertambahnya outlet juga membuat pengelolaan usaha semakin kompleks. Kesalahan dalam stok, pembelian bahan baku atau pengendalian biaya berpotensi terjadi berulang pada lebih dari satu outlet.

Dalam forum tersebut, ESB memperkenalkan sistem operasional terintegrasi yang menghubungkan kasir, inventori, ERP atau back-office, pemesanan pelanggan, operasional dapur hingga analisis data.

Gunawan mengatakan pertumbuhan bisnis kuliner tidak semata-mata diukur dari bertambahnya transaksi atau jumlah cabang.

“Kalimantan Timur sedang tumbuh, namun yang membuat saya optimistis justru bukan angka pertumbuhannya, melainkan cara pelaku usahanya menyikapi hal tersebut. Dari acara Kopdar Racik Bisnis F&B ini, terlihat jelas bahwa mereka sudah mulai mempertanyakan soal stok, biaya, dan performa tiap outlet, bukan sekadar berapa banyak yang terjual,” katanya.

Kopdar Racik Bisnis F&B Balikpapan merupakan bagian dari roadshow ESB di 10 kota sepanjang 2026. Kegiatan tersebut dikemas dalam bentuk diskusi, mentoring dan pembahasan studi kasus bagi pemilik serta pengelola bisnis kuliner.

Berdasarkan data perusahaan, hingga 2026 ESB telah digunakan lebih dari 30.000 merchant aktif di Indonesia dengan nilai transaksi yang disebut telah melampaui Rp65 triliun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *