Rapor Pendidikan Balikpapan Turun, Interport dan Indika Foundation Latih Guru SD Perkuat Numerasi

Kepala Bidang Pendidikan Sekolah Dasar Disdikbud Kota Balikpapan, I Ketut Karton saat membuka pelatihan guru di Balikpapan, Senin (20/7/2026).

Loading

Balikpapan – Kemampuan numerasi siswa sekolah dasar menjadi salah satu perhatian dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan di Kota Balikpapan. Tidak hanya soal kemampuan berhitung, numerasi berkaitan dengan kemampuan peserta didik memahami data, membaca informasi, memecahkan persoalan, hingga mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk menjawab tantangan tersebut, PT Interport Mandiri Utama bersama Indika Foundation menggelar Pelatihan Peningkatan Kapasitas Guru SD bertema “Mengenal Numerasi Lebih Dalam” di Hotel Pacific Balikpapan, Senin-Rabu (20-22/7/2026).

Sebanyak 32 guru SD negeri dan swasta dari wilayah operasional PT Interport Mandiri Utama mengikuti pelatihan yang berfokus pada penguatan metode pembelajaran numerasi agar lebih dekat dengan kehidupan siswa.

Kepala Bidang Pendidikan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Balikpapan, I Ketut Karton, mengatakan program peningkatan kapasitas guru tersebut sejalan dengan kondisi pendidikan saat ini, khususnya terkait capaian numerasi pada jenjang sekolah dasar.

Menurut dia, hasil evaluasi Rapor Pendidikan Kota Balikpapan tahun 2025 menunjukkan adanya penurunan capaian dari sekitar 79 poin menjadi 76 poin. Salah satu faktor terbesar yang memengaruhi penurunan tersebut berasal dari indikator numerasi tingkat SD.

“Yang menyumbang penurunan paling banyak justru dari SD, khususnya nilai numerasi. Karena itu, program seperti ini benar-benar menjadi kebutuhan yang kami rasakan,” ujar Ketut saat membuka pelatihan, Senin (20/7/2026).

Ia mengatakan, peningkatan kemampuan numerasi tidak bisa dilakukan hanya melalui pembelajaran matematika, tetapi harus dibangun melalui cara mengajar yang diterapkan guru di berbagai bidang.

Menurutnya, numerasi merupakan kemampuan dasar yang membantu siswa memahami berbagai persoalan, mulai dari membaca waktu, menghitung biaya, mengukur jarak, hingga mengambil keputusan berdasarkan informasi.

“Numerasi itu bukan hanya menghitung. Anak-anak harus memahami bagaimana konsep angka digunakan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Ketut menyebut, tantangan penguatan numerasi perlu mendapat perhatian sejak jenjang sekolah dasar karena menjadi fondasi bagi kemampuan berpikir siswa di tingkat berikutnya.

Ia mengungkapkan, capaian numerasi siswa SD berdasarkan Tes Kompetensi Akademik (TKA) masih berada di kisaran 47 poin. Angka tersebut masih jauh dari target peningkatan yang diharapkan.

“Ini tantangan yang harus segera kita atasi agar tidak semakin turun. Minimal kita ingin capaian numerasi berada di atas 70,” ujarnya.

Sementara itu, Corporate Social Responsibility PT Interport Mandiri Utama, Ricky Aprilyanto, mengatakan program pelatihan tersebut tidak dibuat berdasarkan asumsi perusahaan, tetapi melalui proses pemetaan kebutuhan bersama sekolah dan Dinas Pendidikan Kota Balikpapan.

Menurutnya, Interport terlebih dahulu melakukan asesmen dan berdiskusi dengan sejumlah sekolah, termasuk SD 021 dan SMP 021 Balikpapan, untuk mengetahui kebutuhan yang paling relevan.

“Kami tidak ingin menentukan program sendiri. Kami analisa dulu kebutuhan sekolah, berdiskusi dengan pihak sekolah dan dinas. Dari situ muncul kebutuhan penguatan literasi dan numerasi,” ujar Ricky.

Ia menjelaskan, pendidikan menjadi salah satu fokus program tanggung jawab sosial Interport, dengan pendekatan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Menurut Ricky, perubahan kualitas pendidikan tidak hanya bergantung pada pembangunan fasilitas, tetapi juga kemampuan guru dalam menghadirkan pembelajaran yang berkualitas.

“Kalau ingin mengubah kualitas pendidikan, yang paling depan adalah gurunya. Karena guru adalah orang yang langsung berada dalam proses belajar mengajar,” katanya.

Ia memastikan program tersebut tidak berhenti setelah pelatihan selama tiga hari. Interport bersama Indika Foundation akan melanjutkan pendampingan untuk melihat penerapan materi yang diperoleh guru di sekolah.

“Kami ingin memastikan ilmu yang diberikan tidak berhenti di pelatihan, tetapi benar-benar diterapkan dalam pembelajaran,” ujarnya.

Salah satu peserta, Pelaksana Tugas Kepala SD Negeri 021 Balikpapan Barat, Adi Kurniawan, menilai pelatihan tersebut membantu guru memahami cara menyampaikan konsep numerasi secara lebih sederhana dan mudah dipahami siswa.

Menurutnya, tantangan pembelajaran saat ini bukan hanya bagaimana guru menyampaikan materi, tetapi bagaimana siswa mampu memahami konsep dan menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari.

“Kegiatan ini sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kembali mutu pendidikan, khususnya kemampuan numerasi anak-anak di sekolah dasar,” katanya.

Melalui penguatan kapasitas guru, program tersebut diharapkan dapat mendorong perubahan pembelajaran numerasi di sekolah dasar, sekaligus menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan Balikpapan dari ruang kelas.

Penulis: Tifa

Editor: Tim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *