![]()
Semarang – Media Gathering PAMA Group 2026 tidak berhenti di ruang diskusi dan agenda silaturahmi. Tahun ini, kegiatan tahunan tersebut ditutup dengan langkah langsung ke lapangan: penanaman 2.000 bibit mangrove di kawasan pesisir Mangunharjo, Kota Semarang.
Kegiatan yang berlangsung pada 24–25 Juni 2026 itu melibatkan manajemen PAMA Group bersama puluhan jurnalis dari berbagai media nasional dan daerah. Usai mengikuti sesi diskusi dan pembekalan terkait lingkungan, peserta kemudian bergerak ke kawasan pesisir untuk melakukan penanaman mangrove secara langsung.
Mangrove dipilih bukan tanpa alasan. Ekosistem ini dikenal sebagai salah satu benteng alami wilayah pesisir yang berfungsi menahan abrasi, menjadi habitat berbagai biota, sekaligus membantu menyerap karbon di tengah tekanan perubahan iklim.
Direktur PT Pamapersada Nusantara (PAMA), Abdul Nasir Maksum, menyebut kawasan pesisir memiliki peran penting dalam keseimbangan lingkungan yang perlu dijaga bersama.
“Kegiatan kita dalam media gathering ini menjadi penting bagi keseimbangan ekosistem pesisir yang tidak hanya menjadi tempat hidup bagi berbagai flora dan fauna, tetapi juga menjadi benteng alam yang membuat kita bisa sama-sama mencegah abrasi serta berbagai kerusakan lingkungan pesisir,” ujarnya.
Ia menambahkan, isu lingkungan tidak bisa ditangani secara tunggal. Keterlibatan banyak pihak, termasuk media, menjadi bagian penting dalam memperluas kesadaran publik.
Sebelum turun ke lapangan, peserta lebih dulu mendapatkan pembekalan mengenai konservasi pesisir dan mangrove dari Kepala Sub Direktorat Konservasi Universitas Negeri Semarang (UNNES), Prof. Dr. Nana Kariada Tri Martuti, M.Si., serta Puteri Indonesia Lingkungan 2018, Vania F. Herlambang.

Prof Nana menjelaskan bahwa mangrove memiliki peran vital dalam menjaga ekosistem pesisir. Selain melindungi garis pantai dari abrasi, mangrove juga menjadi rumah bagi berbagai spesies serta berfungsi sebagai penyerap karbon yang efektif.
“Keberhasilan konservasi mangrove tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi antara akademisi, dunia usaha, pemerintah, media, dan masyarakat agar upaya pelestarian dapat berjalan berkelanjutan,” katanya.
Sementara itu, Vania Herlambang menilai kegiatan penanaman mangrove memiliki makna jangka panjang bagi lingkungan.
“Menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Melalui kegiatan seperti ini, kita tidak hanya menciptakan perubahan secara fisik di kawasan pesisir, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa setiap individu memiliki peran dalam menjaga bumi,” ujarnya.
Media Gathering PAMA Group 2026 sendiri dipusatkan di Gumaya Hotel Semarang dan menjadi ruang pertemuan antara perusahaan, akademisi, pegiat lingkungan, dan insan media. Selain mempererat hubungan yang telah terjalin, kegiatan ini juga diharapkan membuka ruang kolaborasi yang lebih luas ke depan.
Bagi PAMA, penanaman 2.000 mangrove di pesisir Mangunharjo bukan sekadar kegiatan simbolis, melainkan bagian dari upaya jangka panjang menjaga keseimbangan ekosistem pesisir dan memperkuat perlindungan alami kawasan pantai.
Penulis: Pri
Editor: Tim












