![]()
Balikpapan – Kebakaran di kawasan permukiman padat bisa berubah menjadi situasi genting dalam hitungan menit. Warga pun dituntut tak hanya tahu bahaya api, tetapi juga paham apa yang harus dilakukan ketika keadaan darurat benar-benar terjadi.
Karena itu, warga di lima RT Kelurahan Baru Ilir, Balikpapan Barat, dilatih menghadapi skenario kebakaran melalui simulasi evakuasi yang digelar PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Balikpapan bersama kelompok mitra binaan Kampung Tangguh Bencana (KATANA), Selasa (6/10/2026).
Simulasi melibatkan warga RT 49, RT 50, RT 51, RT 52 dan RT 54. Dalam latihan tersebut, warga tidak hanya diminta mengenali situasi darurat, tetapi juga mempraktikkan cara menyampaikan informasi, melakukan evakuasi menuju titik aman hingga membantu kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.

Kegiatan turut melibatkan BPBD Kota Balikpapan, Kecamatan Balikpapan Barat, Kelurahan Baru Ilir, Babinsa, Bhabinkamtibmas serta tim internal HSSE RU Balikpapan.
Warga Diuji Agar Tak Panik
Skenario dibuat menyerupai kondisi kedaruratan agar warga tidak sekadar mengetahui teori evakuasi.
Masyarakat dilatih memahami peran masing-masing ketika terjadi kebakaran, mulai dari mengetahui kejadian, menyampaikan informasi kepada pihak terkait hingga bergerak menuju lokasi aman secara terarah.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Unit Balikpapan, Dodi Yapsenang mengatakan, masyarakat merupakan pihak yang paling dekat dengan potensi kejadian sehingga perlu memiliki kemampuan dasar menghadapi kondisi darurat.
“Penanggulangan bencana membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, termasuk masyarakat sebagai pihak yang berada paling dekat dengan potensi kejadian. Melalui latihan seperti ini, kami berharap warga memahami peran masing-masing, mengetahui langkah awal yang perlu dilakukan, serta mampu berkoordinasi dengan baik ketika menghadapi kondisi darurat,” ujar Dodi.
Menurut dia, simulasi tersebut menjadi bagian dari penguatan Program KALIANDRA atau Kampung Baru Ilir Mandiri, Indah, dan Sejahtera, khususnya dalam meningkatkan pengetahuan, kapasitas dan kesiapan masyarakat menghadapi risiko bencana.
Bagi warga, latihan semacam ini juga menjadi kesempatan untuk mengetahui apa yang harus dilakukan ketika kebakaran benar-benar terjadi.
Ketua KATANA Kelurahan Baru Ilir, Sugianto mengatakan, masyarakat selama ini mengetahui bahaya kebakaran, tetapi belum tentu seluruhnya memahami tindakan yang harus dilakukan saat kejadian.
“Selama ini masyarakat mengetahui bahaya kebakaran, tetapi belum tentu semua memahami apa yang harus dilakukan ketika kejadian benar-benar terjadi. Melalui simulasi ini, warga dapat belajar bagaimana melakukan evakuasi, membantu tetangga, dan berkoordinasi dengan pihak terkait. Kami berharap latihan seperti ini dapat terus dilakukan agar kesiapan masyarakat semakin baik,” ungkap Sugianto.
Tak Hanya Selamatkan Diri
Aspek penting dalam simulasi tersebut adalah kemampuan warga membantu orang lain yang membutuhkan pertolongan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Balikpapan, Bambang, mengatakan masyarakat perlu memahami bahwa respons saat kebakaran bukan hanya menyelamatkan diri sendiri.
“Melalui simulasi ini, warga belajar untuk tidak panik ketika menghadapi kebakaran. Masyarakat perlu mengetahui bagaimana menyampaikan informasi kejadian, mengevakuasi diri dan keluarga menuju lokasi aman, serta membantu anak-anak, lansia, dan warga lain yang membutuhkan pertolongan. Latihan seperti ini penting dilakukan secara berkala agar masyarakat semakin memahami langkah yang harus dilakukan dalam kondisi darurat,” jelas Bambang.
Simulasi tersebut sekaligus menjadi latihan koordinasi antara warga, KATANA, pemerintah kelurahan dan kecamatan, BPBD, Babinsa, Bhabinkamtibmas serta unsur lainnya.
Pertamina Patra Niaga Unit Balikpapan menyebut kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) untuk meningkatkan kapasitas masyarakat berbasis komunitas.
Dengan keberadaan KATANA dan latihan yang dilakukan secara berkala, kesiapsiagaan diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.
Warga didorong menjadikan kemampuan mengenali risiko, menyampaikan informasi, melakukan evakuasi dan membantu kelompok rentan sebagai bagian dari kebiasaan ketika menghadapi keadaan darurat.












