![]()
Nusantara – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi perhatian di kawasan sekitar Ibu Kota Nusantara (IKN). Dari udara, terlihat kondisi kawasan hutan di Tahura Bukit Soeharto, Kalimantan Timur.
Foto udara yang diambil menggunakan drone di kawasan Tahura Bukit Soeharto pada 3 September 2026 memperlihatkan bentang kawasan hutan yang menjadi bagian penting dari ekosistem penyangga Nusantara.
Menghadapi risiko tersebut, Otorita IKN memperkuat pengendalian karhutla dengan membagi kawasan Nusantara menjadi tujuh klaster sekaligus membentuk Satuan Reaksi Cepat Multi Pihak untuk mempercepat deteksi dan penanganan api di lapangan.
Pembagian klaster dilakukan dengan mempertimbangkan sebaran posko, ketersediaan peralatan, sumber daya manusia hingga aksesibilitas menuju lokasi rawan kebakaran.
Setiap klaster memiliki koordinator yang berasal dari unsur Otorita IKN, pemerintah kecamatan maupun perusahaan, menyesuaikan karakteristik dan keterlibatan para pihak di wilayah masing-masing.
Satuan Reaksi Cepat tersebut melibatkan banyak unsur, mulai dari Otorita IKN, Kementerian Kehutanan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dan Penajam Paser Utara, pemerintahan desa dan kelurahan, perusahaan, organisasi lingkungan hidup hingga relawan.
Kelompok masyarakat juga dilibatkan melalui Masyarakat Peduli Api, Mitra Polhut dan relawan pemadam kebakaran.
Di masing-masing klaster, perkembangan titik panas dan lokasi sumber air diperbarui setiap hari. Data tersebut menjadi dasar kesiapsiagaan sekaligus memudahkan koordinasi ketika terjadi kebakaran.
Respons di lapangan tidak hanya berupa pemadaman. Petugas juga melakukan penyekatan untuk mencegah api meluas, kemudian pembasahan dan pendinginan pada area yang telah terbakar untuk mencegah munculnya kembali titik api.
Setelah api dipadamkan, lokasi tetap dipantau untuk memastikan tidak terjadi penyalaan kembali.
Pengendalian dilakukan secara bersama oleh Otorita IKN, pos pemadam kebakaran, BPBD, UPT Dinas Kehutanan, UPT Kementerian Kehutanan, perusahaan, relawan dan seluruh anggota Satuan Reaksi Cepat.
Aparatur sipil negara di lingkungan Otorita IKN juga menjalankan piket secara bergantian di sejumlah posko untuk mendukung patroli dan pemantauan kawasan.
Langkah tersebut disiapkan Otorita IKN sejak sebelum memasuki musim kemarau 2026. Pola pengendalian mencakup tiga tahapan, yakni pencegahan, penanggulangan dan pemulihan.
Di sisi pencegahan, Otorita IKN juga menyiapkan strategi menghadapi potensi kekeringan berkepanjangan, terutama dengan memperkuat ketersediaan air.
Pasokan air tambahan diupayakan melalui pemanfaatan air dari Waduk Sepaku Semoi dengan pemasangan pipa untuk mendukung kebutuhan air di kawasan.
Otorita IKN bersama BMKG dan TNI Angkatan Udara juga melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada 22–25 Agustus 2026.
Operasi tersebut dilakukan untuk membantu menjaga pasokan air sekaligus mengurangi risiko karhutla. Hujan yang dihasilkan dari operasi tersebut kemudian ditampung di sejumlah titik, termasuk Waduk Sepaku Semoi.
Selain mengandalkan sumber air permukaan, Otorita IKN juga menyiapkan cadangan air tanah melalui pengeboran.
Saat ini, penyelidikan geolistrik dilakukan sebagai tahap awal untuk mengetahui potensi sumber air tanah. Pengeboran direncanakan berlangsung pada minggu keempat September 2026.
Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono mengatakan pengendalian karhutla tidak dapat dilakukan oleh satu lembaga saja.
“Pengendalian karhutla bukan pekerjaan satu lembaga. Ini ikhtiar bersama pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat untuk menjaga Nusantara sebagai kota hutan yang aman dan berkelanjutan,” ujar Basuki.
Perhatian juga diarahkan kepada petugas yang berada di garis depan penanganan kebakaran. Otorita IKN mendistribusikan multivitamin untuk mendukung kondisi petugas selama menjalankan tugas pemadaman dan pengendalian karhutla.
Dengan pembagian kawasan menjadi tujuh klaster, sistem pemantauan harian, kesiapan sumber air serta keterlibatan lintas pihak, Otorita IKN berupaya memperpendek waktu respons ketika kebakaran muncul sekaligus mencegah api meluas di kawasan Nusantara.












