DAERAH  

Mengubah Pendidikan dari Ruang Kelas, Interport Pilih Investasi pada Guru SD Balikpapan

Corporate Social Responsibility PT Interport Mandiri Utama, Ricky Aprilyanto, menjelaskan pendekatan program pendidikan Interport yang berfokus pada peningkatan kapasitas guru di Balikpapan, Senin (20/7/2026).

Loading

Balikpapan – Peningkatan kualitas pendidikan tidak selalu dimulai dari pembangunan gedung atau penambahan fasilitas belajar. Bagi PT Interport Mandiri Utama, perubahan juga harus menyentuh sumber daya manusia yang berada paling dekat dengan siswa, yakni guru di ruang kelas.

Pendekatan tersebut diwujudkan Interport bersama Indika Foundation melalui Pelatihan Peningkatan Kapasitas Guru SD bertema “Mengenal Numerasi Lebih Dalam” yang berlangsung selama tiga hari, Senin-Rabu (20-22/7/2026), di Hotel Pacific Balikpapan.

Sebanyak 32 guru SD dari sejumlah sekolah di wilayah operasional Interport mengikuti pelatihan yang berfokus pada penguatan kemampuan pendidik dalam menghadirkan pembelajaran numerasi yang lebih kontekstual dan mudah diterapkan kepada siswa.

Corporate Social Responsibility PT Interport Mandiri Utama, Ricky Aprilyanto, mengatakan program tersebut tidak disusun berdasarkan asumsi perusahaan, melainkan melalui pemetaan kebutuhan bersama sekolah dan Dinas Pendidikan Kota Balikpapan.

Sebelum menentukan bentuk kegiatan, Interport melakukan asesmen untuk melihat tantangan pendidikan yang paling membutuhkan perhatian di sekitar wilayah operasional perusahaan.

“Program ini sebenarnya sudah kami rencanakan sejak setahun lalu. Sebelum membuat program, kami melakukan analisa terlebih dahulu agar bantuan yang diberikan benar-benar sesuai kebutuhan guru,” ujar Ricky.

Dari hasil diskusi bersama sekolah, khususnya SD dan SMP 21 Balikpapan, kata Ricky, penguatan kapasitas guru dalam bidang literasi dan numerasi menjadi salah satu kebutuhan yang muncul.

“Dari mereka menyampaikan bahwa yang dibutuhkan adalah pelatihan literasi dan numerasi. Karena itu kami mencoba membantu dari sisi peningkatan kapasitas guru,” katanya.

Menurut Ricky, numerasi dipilih sebagai fokus awal karena kemampuan tersebut masih menjadi salah satu tantangan dalam dunia pendidikan. Sementara penguatan literasi akan dikembangkan melalui program lanjutan.

“Literasi dan numerasi itu pembahasannya panjang. Jadi kami fokuskan dulu pada numerasi. Setelah ini akan ada program pendampingan agar ilmu yang diperoleh guru selama pelatihan bisa diterapkan,” jelasnya.

Guru Jadi Titik Awal Perubahan Pendidikan

Ricky mengatakan, Interport memilih pendekatan pengembangan kapasitas guru karena pendidik menjadi aktor utama yang menentukan bagaimana proses pembelajaran berlangsung di kelas.

Menurutnya, peningkatan kualitas pendidikan tidak cukup hanya melalui penyediaan fasilitas, tetapi juga membutuhkan guru yang mampu menerjemahkan materi menjadi pembelajaran yang mudah dipahami siswa.

“Kalau kita bicara pendidikan, yang bisa mengembangkan dan mengubah tingkat pendidikan adalah guru. Orang yang berada paling depan saat proses pembelajaran adalah guru,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pendidikan menjadi salah satu dari empat fokus program sosial Interport, selain kesehatan, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.

Namun, pada sektor pendidikan, perusahaan memilih mengambil peran melalui pengembangan sumber daya manusia.

“Untuk pendidikan, kami memang lebih fokus kepada pengembangan kapasitas guru, bukan hanya fasilitas. Karena fasilitas bisa menjadi bagian dari pihak lain, sementara kami ingin mengambil peran di pengembangan sumber daya manusianya,” kata Ricky.

Ia menambahkan, keberhasilan program tidak hanya diukur dari terlaksananya pelatihan, tetapi dari perubahan yang terjadi setelah kegiatan berakhir.

Karena itu, Interport menyiapkan pendampingan lanjutan untuk melihat penerapan materi pelatihan dalam proses pembelajaran di sekolah.

“Kami ingin program ini berkelanjutan. Jadi bukan hanya sekali berjalan, tetapi ada pendampingan dan evaluasi untuk melihat apakah ilmu yang diberikan benar-benar diterapkan oleh guru,” ujarnya.

Dorong Pembelajaran Lebih Kontekstual

Program tersebut mendapat respons positif dari peserta. Pelaksana Tugas Kepala SD Negeri 021 Balikpapan Barat, Adi Kurniawan, mengatakan peningkatan kapasitas guru menjadi kebutuhan penting dalam menghadapi tantangan pendidikan saat ini.

Menurutnya, persoalan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan fasilitas, tetapi bagaimana guru mampu menyampaikan konsep pembelajaran sesuai karakter dan kebutuhan siswa.

“Kesulitannya mungkin pada pemahaman konsep. Khususnya di sekolah dasar, pembelajaran harus lebih konkret dan penerapannya harus terus dilakukan secara berkelanjutan,” ujar Adi.

Ia berharap pelatihan tersebut dapat membantu guru mengembangkan metode pembelajaran yang lebih efektif sehingga berdampak pada peningkatan kemampuan peserta didik.

Melalui program tersebut, Interport berharap para guru tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga mampu menjadi penggerak perubahan dengan membagikan praktik pembelajaran kepada rekan pendidik lainnya.

Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong peningkatan kualitas pendidikan Balikpapan melalui investasi pada sumber daya manusia, terutama guru sebagai penggerak utama proses pembelajaran di sekolah.

Penulis: Tifa

Editor: Tim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *