Numerasi Masuk Semua Mata Pelajaran, Guru Balikpapan Dibekali Metode Pembelajaran Kontekstual

Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Menengah Pertama Dinas Pendidikan Kota Balikpapan, Supriyani, menjelaskan pentingnya penguatan numerasi sebagai kemampuan lintas mata pelajaran di Balikpapan, Rabu (15/7/2026).

Loading

Balikpapan – Kemampuan numerasi tidak lagi dipandang sebatas kemampuan menghitung angka. Di tengah perubahan dunia pendidikan, numerasi menjadi keterampilan dasar yang membantu peserta didik membaca data, memahami informasi, berpikir logis, hingga mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, pemahaman numerasi yang masih terbatas menjadi salah satu tantangan dalam proses pembelajaran. Banyak yang masih menganggap numerasi hanya berkaitan dengan mata pelajaran matematika, padahal kemampuan tersebut dapat diterapkan dalam berbagai bidang studi.

Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Menengah Pertama Dinas Pendidikan Kota Balikpapan, Supriyani, mengatakan numerasi merupakan kemampuan menggunakan konsep angka dan data untuk memahami serta menyelesaikan persoalan nyata.

“Numerasi bukan hanya tugas guru matematika. Semua mata pelajaran pasti di dalamnya ada numerasi,” ujar Supriyani saat ditemui dalam Pelatihan Peningkatan Kapasitas Guru SMP Kota Balikpapan di Balikpapan, Rabu (15/7/2026).

Ia mencontohkan, dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), siswa dapat dilatih memahami data ekonomi, grafik, maupun berbagai fenomena sosial melalui angka. Sementara dalam pelajaran olahraga, numerasi dapat diterapkan melalui pemahaman jarak, waktu, hingga pengukuran.

“Numerasi itu bukan hanya sekadar menghitung, tetapi bagaimana anak-anak memahami dan menerapkan konsep angka dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Menurut Supriyani, penguatan numerasi menjadi salah satu perhatian dalam peningkatan kualitas pendidikan di Balikpapan. Kemampuan tersebut juga menjadi salah satu indikator yang tercermin dalam Rapor Pendidikan sebagai bahan evaluasi capaian pembelajaran peserta didik.

Ia menilai tantangan pendidikan saat ini bukan hanya membuat siswa memperoleh nilai akademik yang tinggi, tetapi memastikan mereka mampu menggunakan pengetahuan tersebut dalam menghadapi persoalan di luar ruang kelas.

“Kadang anak-anak mendapatkan nilai matematika tinggi, tetapi ketika dihadapkan dengan persoalan sederhana seperti menghitung diskon atau memahami data, masih mengalami kesulitan. Artinya, pemahaman konsepnya yang perlu diperkuat,” jelasnya.

Karena itu, ia mendorong guru menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual agar siswa tidak hanya menghafal rumus, tetapi memahami bagaimana ilmu tersebut digunakan.

“Pembelajaran harus bisa digunakan anak-anak untuk menjelaskan, menerapkan, dan menganalisis. Itu yang menjadi tujuan utama,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Dimas, guru SMP Negeri 21 Balikpapan yang menjadi salah satu peserta pelatihan. Menurutnya, kegiatan tersebut membuka pemahaman baru bahwa numerasi bukan hanya tanggung jawab guru matematika.

Dalam pembelajaran IPS, kata dia, kemampuan membaca dan mengolah data menjadi bagian penting untuk membantu siswa memahami berbagai fenomena sosial.

“Banyak yang menganggap numerasi hanya untuk matematika. Padahal di IPS juga sangat membutuhkan numerasi, misalnya ketika membahas skala, ekonomi, inflasi, dan berbagai data,” ujar Dimas.

Ia mengatakan tantangan yang sering ditemui di kelas bukan hanya kemampuan siswa dalam melakukan perhitungan, tetapi memahami konsep di balik angka tersebut.

“Anak-anak biasanya tahu cara menghitung, tetapi belum memahami konsep numerasinya. Padahal ketika konsepnya dipahami, mereka akan lebih mudah menyelesaikan persoalan,” katanya.

Menurutnya, pelatihan tersebut memberikan perspektif baru bagi guru untuk mengintegrasikan numerasi sesuai karakteristik mata pelajaran masing-masing.

“Harapannya guru-guru memiliki pandangan yang sama bahwa numerasi bukan hanya milik satu mata pelajaran, tetapi bisa diterapkan di semua bidang,” ujarnya.

Penguatan kemampuan guru tersebut menjadi fokus dalam Pelatihan Peningkatan Kapasitas Guru SMP Kota Balikpapan yang digelar PT Interport Mandiri Utama bersama Indika Foundation.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 15–17 Juli 2026, di Ballroom Hotel Pacific Balikpapan itu diikuti 30 guru SMP dari sejumlah sekolah di sekitar wilayah operasional Interport.

Melalui pelatihan ini, para guru dibekali pendekatan pembelajaran numerasi yang lebih interaktif dan relevan agar kemampuan siswa tidak hanya berhenti pada kemampuan menghitung, tetapi juga berkembang menjadi kemampuan berpikir kritis dan analitis.

Program tersebut diharapkan dapat memperkuat kompetensi pendidik sekaligus mendorong perubahan cara pandang bahwa numerasi merupakan kemampuan lintas mata pelajaran yang penting bagi peserta didik menghadapi tantangan masa depan.

Penulis: Tifa

Editor: Tim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *