![]()
Balikpapan – Semangat perjuangan Hari Pahlawan menjadi inspirasi bagi PT Pertamina (Persero) untuk menyalakan babak baru kemandirian energi nasional. Melalui PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) dan anak usahanya PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB), Pertamina resmi memulai pengoperasian awal (start-up) Unit Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex sebagai bagian dari rangkaian proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan.
Unit RFCC menjadi jantung modernisasi kilang, berperan penting dalam memproduksi bahan bakar berstandar Euro V yang lebih ramah lingkungan serta meningkatkan efisiensi dan nilai ekonomi Kilang Balikpapan.
Dengan nilai investasi mencapai USD 7,4 miliar atau setara Rp120 triliun, RDMP Balikpapan merupakan proyek modernisasi kilang terbesar di Indonesia dan salah satu yang paling strategis di Asia Tenggara. Proyek ini sejalan dengan Asta Cita Pemerintah, khususnya dalam memperkuat hilirisasi energi, kemandirian industri migas nasional, dan ketahanan energi berkelanjutan.
Pjs Corporate Secretary KPI Milla Suciyani mengatakan bahwa momentum pengoperasian awal RFCC Complex ini menjadi tonggak penting menuju penyelesaian proyek RDMP secara menyeluruh.
“Hari ini dilakukan pengoperasian awal Unit RFCC Complex. Kami memohon kelancaran seluruh proses melalui kegiatan doa bersama agar setiap tahapan dapat berjalan aman dan lancar,” ujarnya.
Kegiatan doa bersama digelar di lingkungan Kilang Balikpapan dan dihadiri oleh Komisaris Independen PT Pertamina (Persero), Komisaris Independen PT KPI, jajaran Direksi dan Manajemen PT KPI serta PT KPB, serta para pekerja yang terlibat dalam proyek RDMP.
Sebagai bentuk rasa syukur, Pertamina juga menyalurkan santunan kepada 11 penerima, terdiri dari lima tempat ibadah lintas agama, dua perkumpulan penyandang disabilitas, dua lembaga kesejahteraan sosial anak (LKSA), satu lembaga kesejahteraan sosial lanjut usia (LKS-LU), dan satu lembaga veteran.
Milla menegaskan, keberhasilan proyek ini tidak lepas dari dukungan penuh pemerintah.
“Penetapan RDMP Balikpapan sebagai Proyek Strategis Nasional adalah bukti komitmen negara dalam mewujudkan swasembada energi, memperkuat hilirisasi industri, dan memastikan Pertamina menjadi tulang punggung transformasi energi menuju kemandirian dan keberlanjutan,” jelasnya.
Proyek RDMP Balikpapan telah menyelesaikan beberapa tahapan penting, termasuk peningkatan kapasitas pengolahan minyak mentah dari 260 ribu menjadi 360 ribu barel per hari, commissioning sarana tambat Single Point Mooring (SPM) 320.000 DWT, serta penyelesaian dua tangki penyimpanan minyak mentah berkapasitas 1 juta barel di Lawe-Lawe.
Secara ekonomi, proyek ini diperkirakan dapat menghemat impor BBM hingga Rp68 triliun per tahun dan menyumbang Rp514 triliun terhadap PDB nasional, dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) lebih dari 35% dan penyerapan tenaga kerja lebih dari 24.000 orang di masa puncak konstruksi.
“Selain memperkuat struktur ekonomi nasional, proyek ini membawa dampak sosial positif melalui pembangunan infrastruktur lokal, pemberdayaan masyarakat, serta program CSR di bidang pendidikan, kesehatan, dan lingkungan,” tutup Milla.












