![]()
Balikpapan – Tekanan harga di Kota Balikpapan dan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) pada Januari 2026 terpantau lebih terkendali. Setelah lonjakan aktivitas pada periode libur Natal dan Tahun Baru, harga-harga mulai bergerak stabil seiring normalnya mobilitas masyarakat serta terjaganya pasokan bahan pangan.
Berdasarkan data Indeks Harga Konsumen (IHK), Balikpapan mencatat deflasi sebesar 0,11 persen secara bulanan (mtm). Sementara itu, PPU masih mengalami inflasi tipis 0,05 persen (mtm). Secara tahunan, inflasi Balikpapan tercatat 3,26 persen (yoy) dan PPU 2,75 persen (yoy), keduanya lebih rendah dibandingkan inflasi gabungan empat kota di Kalimantan Timur maupun angka nasional. Capaian tersebut juga masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5 persen ± 1 persen.
Di Balikpapan, penurunan harga paling besar datang dari sektor transportasi. Turunnya tarif angkutan udara setelah berakhirnya musim liburan memberi andil signifikan terhadap deflasi. Selain itu, harga bensin ikut turun seiring penyesuaian harga Pertamax, serta meredanya harga cabai rawit dan cabai merah karena pasokan dari daerah sentra panen mulai melimpah. Biaya sekolah tingkat SMA juga lebih ringan setelah adanya dukungan dana operasional pendidikan.
Meski demikian, sejumlah komoditas masih mencatat kenaikan harga. Emas perhiasan menjadi penyumbang utama inflasi, dipicu tren kenaikan harga emas dunia. Harga daging ayam ras ikut terdorong naik akibat terbatasnya pasokan, disusul bahan bakar rumah tangga, baju muslim anak menjelang Ramadan, serta harga mobil yang kembali normal setelah periode diskon akhir tahun.
Sementara di PPU, tekanan harga terutama bersumber dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kenaikan harga ikan tongkol dipengaruhi gelombang laut tinggi yang membatasi aktivitas nelayan. Tomat dan daging ayam ras juga naik karena stok dari luar daerah berkurang. Selain itu, harga kayu balokan meningkat akibat biaya distribusi yang terdampak curah hujan tinggi, serta emas perhiasan yang mengikuti tren global.
Di sisi lain, beberapa komoditas hortikultura justru membantu menahan inflasi. Harga cabai merah, cabai rawit, bawang merah, buncis, dan jagung manis turun karena pasokan lokal dan kiriman dari Jawa serta Sulawesi mulai meningkat.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, menjelaskan bahwa kondisi ini menunjukkan stabilitas harga yang cukup baik di awal tahun. Namun, pihaknya tetap mencermati sejumlah risiko ke depan, seperti puncak musim hujan, potensi banjir di sentra produksi, hingga peningkatan permintaan menjelang Ramadan dan Idul Fitri yang bisa memicu tekanan harga.
Survei Konsumen BI Balikpapan juga menunjukkan optimisme masyarakat masih terjaga. Indeks Keyakinan Konsumen tercatat 129,3 atau berada pada zona optimistis, lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya.
Untuk menjaga stabilitas harga, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan terus melakukan pemantauan harga, operasi pasar, pasar murah, penguatan kerja sama antar daerah, serta mendorong pemanfaatan lahan pekarangan untuk produksi pangan. Upaya ini diperkuat melalui program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) agar inflasi tetap terkendali sepanjang tahun.
Dengan pasokan yang terjaga dan koordinasi lintas instansi, stabilitas harga diharapkan tetap terpelihara sehingga daya beli masyarakat dapat terus terjaga.
Penulis: Tim
Editor: Tifa












