![]()
Balikpapan – Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Kelas A Balikpapan memberangkatkan Tim SAR Gabungan untuk melakukan operasi pencarian dan pertolongan terhadap korban kecelakaan kapal ferry di Perairan Ujoh Halang, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.
Operasi pencarian dimulai segera setelah Basarnas menerima laporan dari BPBD Kutai Barat pada Senin malam (10/11). Kapal ferry yang diduga mengalami kelebihan muatan dilaporkan tenggelam di perairan sungai Mahakam, tepatnya di sekitar koordinat 0° 2’51.42″N – 115°34’9.62″E.
Kepala Basarnas Balikpapan menyampaikan bahwa seluruh sumber daya dikerahkan untuk mempercepat proses pencarian.
“Kami mengerahkan semua unsur dan potensi SAR yang ada untuk melakukan pencarian secepat mungkin. Kami juga mengimbau kepada masyarakat, khususnya nelayan dan pengguna transportasi sungai di sekitar Ujoh Halang, agar tetap waspada dan melaporkan segera jika menemukan tanda-tanda keberadaan korban,” ujarnya.
Tim Search and Rescue Unit (SRU) diberangkatkan dari Kantor SAR Balikpapan pada Selasa dini hari (11/11) pukul 00.35 WITA dan dijadwalkan tiba di lokasi operasi sekitar pukul 12.35 WITA. Operasi difokuskan di area radius beberapa kilometer dari titik dugaan tenggelamnya kapal.
Dalam operasi ini, Basarnas Balikpapan bekerja sama dengan TNI AD Kutai Barat, BPBD Kutai Barat, serta PT BDL Kutai Barat. Sinergi antarinstansi tersebut menjadi faktor penting dalam mempercepat proses pencarian di medan yang cukup menantang.
“Kami berterima kasih atas respons cepat dan koordinasi yang solid dari seluruh unsur SAR gabungan. Sinergi seperti ini sangat krusial di jam-jam pertama operasi penyelamatan,” tambahnya.
Berdasarkan laporan sementara, terdapat delapan orang korban yang masih dalam pencarian, masing-masing:
- Ira (Perempuan, asal Timur)
- Ilham (Laki-laki, Bandung)
- Pendi (Laki-laki, Lumajang)
- Anci (Laki-laki, Banjar)
- Sello (Laki-laki, Timur)
- Yanto (Laki-laki, Timur)
- Dedy (Laki-laki, Bandung)
- Bogel (Laki-laki, Malang)
Upaya pencarian dilakukan dengan metode penyisiran permukaan air menggunakan perahu karet dan perahu fiber, serta penyelaman terbatas di sekitar lokasi kapal tenggelam, tergantung kondisi arus dan visibilitas air.
Basarnas menegaskan, semangat kemanusiaan dan kesiagaan menjadi landasan utama dalam setiap operasi penyelamatan.
“Misi kami sederhana, yaitu menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa. Tidak ada yang lebih berharga dari keselamatan manusia,” tegas perwakilan tim di lapangan.
Operasi SAR dijadwalkan berlangsung hingga seluruh korban ditemukan atau situasi dinyatakan aman.












