![]()
Aceh Tamiang – Suara sekop beradu dengan lantai, sapu bergesekan dengan lumpur kering, dan ember berisi air hilir mudik dari satu kelas ke kelas lain. Pemandangan itu terlihat di SD Negeri 4 Kuala Simpang, Minggu, 25 Januari 2026. Puluhan taruna berseragam tampak sibuk membersihkan sisa banjir yang masih menutup ruang-ruang belajar.
Bukan petugas kebersihan, mereka adalah peserta Latihan Integrasi Taruna Wreda Nusantara (Latsitardanus) ke-46, gabungan taruna Akpol, Akmil, AAU, AAL, serta Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), yang turun langsung membantu pemulihan fasilitas pendidikan warga.
Sekolah tersebut diketahui masih menyimpan endapan lumpur tebal sejak banjir melanda Aceh Tamiang pada November 2025 lalu. Kondisi itu membuat kegiatan belajar mengajar belum bisa berjalan normal.
Dengan alat sederhana, para taruna bergotong royong mengangkat lumpur, menyapu lantai, hingga mengepel ruangan. Beberapa kelas mulai terlihat bersih dan kembali layak digunakan.
Taruna Akademi Angkatan Laut, Salsadila Rossa Firllyanti, mengatakan pembersihan telah dilakukan selama dua hari dan menunjukkan progres signifikan.
“Untuk proses pengerjaan sendiri sudah kami lakukan selama dua hari. Progres yang sudah kami lakukan sudah membersihkan beberapa kelas dan sudah bisa dipakai untuk kegiatan belajar mengajar. Namun, untuk beberapa bangunan sudah mulai rapuh, sehingga masih diperlukan pembersihan yang lebih mendalam,” jelasnya.
Sementara itu, Taruna Akpol Sultan Rekha Alfarabbi Firdaus mengungkapkan ketebalan lumpur di dalam ruangan menjadi tantangan tersendiri bagi tim.
“Hari ini kami melaksanakan kegiatan di suatu sekolah dasar di Tamiang dan yang kami lakukan adalah membersihkan lumpur yang cukup tinggi di ruang-ruang sekolahan. Kami sekop, kami sapu, dan kami pel supaya ruangan-ruangan ini bisa cepat digunakan kembali oleh anak-anak di SD di Tamiang,” ujarnya.
Bagi para taruna, kegiatan tersebut bukan sekadar agenda latihan lapangan. Aksi sosial ini menjadi wujud nyata pengabdian kepada masyarakat, terutama dalam membantu pemulihan pascabencana.
Mereka berharap kehadiran Latsitardanus dapat membawa dampak langsung bagi warga Aceh Tamiang, mulai dari perbaikan fasilitas umum hingga mempercepat bangkitnya aktivitas sosial dan pendidikan.
“Kegiatan Latsitardanus ke-46 ini kami harapkan dapat membawa dampak baik untuk masyarakat Aceh Tamiang, membangun kembali fasilitas umum, serta membantu kehidupan masyarakat menjadi lebih baik,” kata Salsadila.
Sultan pun menaruh harapan yang sama. Menurutnya, pemulihan yang cepat akan membantu anak-anak kembali ke bangku sekolah tanpa harus kehilangan waktu belajar lebih lama.
“Harapan saya, semua kerusakan akibat bencana dapat cepat dipulihkan, sehingga anak-anak bisa segera kembali bersekolah, toko-toko bisa kembali buka, dan aktivitas masyarakat bisa kembali normal secepat mungkin,” tutupnya.
Melalui kerja bakti itu, semangat gotong royong dan kepedulian para taruna menjadi energi baru bagi sekolah yang sempat terhenti aktivitasnya, ini membuktikan bahwa kehadiran mereka bukan hanya untuk berlatih, tetapi juga untuk hadir membantu rakyat.
Penulis: Tim
Editor: Tifa








