![]()
Mentari baru saja naik di atas laut Sulawesi ketika cahaya biru muda memantul di ombak Maratua. Di dermaga kecil yang menjorok ke laut, perahu-perahu nelayan tampak bergoyang ringan, seolah ikut bernafas bersama angin. Suara mesin perahu berpadu dengan tawa anak-anak yang berlari menyusuri pasir putih, menandai dimulainya hari baru di pulau yang dulu, setiap malamnya, tenggelam dalam gelap.
Bagi nelayan di ujung timur Berau ini, pagi bukan sekadar awal hari. Ia adalah tanda kehidupan yang terus berdenyut di tepi Indonesia. Di tempat di mana garis laut memeluk langit, dan listrik pernah terasa seperti kemewahan yang mustahil.
Dulu, ketika senja turun, gelap datang terlalu cepat. Rumah-rumah nelayan bergantung pada lampu minyak; anak-anak belajar dengan mata menyipit di bawah cahaya lilin. Puskesmas kecil di Biduk-Biduk menutup layanan sebelum malam, karena tanpa listrik, tak ada alat medis yang bisa digunakan.
Namun, semua berubah ketika jaringan PLN akhirnya menjangkau pulau-pulau terluar itu. Kabel-kabel besi yang menembus hutan dan menyeberang laut bukan sekadar infrastruktur. Ia membawa perubahan, dari gelap menuju terang, dari keterpencilan menuju keadilan.
Dari Laut Menuju Terang
“Sekarang kami bisa memperbaiki jaring malam hari tanpa takut kehabisan minyak,” tutur Guntaris, nelayan asal Kampung Payung-Payung, sambil menatap lampu-lampu yang berkilau di sepanjang garis pantai.
“Anak saya belajar di bawah lampu, bukan di bawah cahaya lilin lagi.”
Suara Guntaris pelan, tapi matanya menyimpan cahaya lain — cahaya dari rasa syukur sederhana. Dulu, hidupnya ditentukan oleh matahari. Saat gelap datang, aktivitas berhenti. Es batu untuk menyimpan hasil tangkapan harus dibeli mahal dari daratan. Generator kecil hanya sanggup menyala tiga jam semalam, itupun dengan biaya bahan bakar yang terus naik.
Kini, listrik yang menyala stabil mengubah segalanya. Dengan pasokan listrik yang cukup, mereka bisa menyimpan ikan lebih lama, memperluas pasar hingga ke Tanjung Redeb, bahkan menambah penghasilan. Di teras rumahnya, mesin penggiling es berputar, berdengung lembut di tengah semilir angin laut — suara kecil yang menandakan kemajuan.
Beberapa warga lain mulai membuka usaha rumahan: pengeringan ikan, pembuatan es balok, dan warung makan kecil di tepi pantai. Anak-anak muda belajar memotret wisatawan dengan kamera digital, dan sebagian ibu-ibu mulai menjual minuman dingin bagi penyelam yang datang menikmati keindahan laut Maratua.
Di antara kilau lampu dan suara ombak, ekonomi pesisir perlahan menemukan napas barunya.
Dan di setiap kabel yang membentang, tersimpan janji: bahwa energi bukan lagi milik kota, melainkan hak setiap warga negeri, dari pesisir hingga gunung.
Cahaya di Sekolah Pinggir Laut
Di Biduk-Biduk, jalan beraspal berhenti di ujung desa, berganti jalan berbatu yang menuju ke sekolah dasar sederhana di tepi pantai. Pagi itu, suara tawa anak-anak memecah keheningan, diselingi debur ombak yang datang dan pergi.
“Dulu saya hanya bisa menunjukkan gambar dari buku lusuh,” kata Nurlaila, guru SDN 002 Biduk-biduk yang sudah lebih dari sepuluh tahun mengajar di sana.
“Sekarang, saya bisa memutar video pembelajaran lewat proyektor kecil. Anak-anak jadi lebih semangat belajar.”
Bagi Nurlaila, listrik bukan sekadar penerangan. Ia adalah jembatan menuju kesempatan.
Anak-anak yang dulu belajar di bawah cahaya lilin kini mengenal dunia lewat gambar bergerak, suara, dan warna. Mereka bisa melihat gunung di Jawa, candi di Yogyakarta, hingga kapal besar di pelabuhan Surabaya — sesuatu yang dulu hanya mereka dengar dari cerita radio atau dari buku pelajaran.
“Listrik membuat anak-anak kami percaya bahwa mereka juga bisa punya masa depan yang terang,” ujarnya sambil menatap murid-muridnya yang sedang menulis dengan serius.
Di papan tulis, tertulis besar kalimat yang ia tulis dengan kapur putih: Belajar adalah cahaya.
Terang yang Menyelamatkan
Beberapa kilometer dari sekolah itu, di puskesmas Biduk-Biduk, lampu putih di ruang bersalin menyala tenang. Di meja logam, lemari pendingin vaksin bergetar lembut, menjaga suhu di bawah 10 derajat, tanda listrik bekerja sebagaimana mestinya.
“Dulu kami harus menunggu siang untuk membuka layanan,” kenang Siti Rahma, bidan muda yang sudah dua tahun bertugas di sana. “Kalau malam ada yang melahirkan, kami pakai lampu senter. Kadang saya menahan napas setiap kali baterai senter mulai redup.”
Kini, malam tak lagi menakutkan. Listrik membuat pelayanan kesehatan tetap berjalan, bahkan di tengah badai atau hujan. Vaksin tak lagi rusak, alat medis bisa digunakan, dan ibu-ibu yang melahirkan merasa aman.
“Bagi kami di sini,” kata Rahma pelan, “listrik bukan sekadar cahaya. Ia adalah kehidupan.”
Jangkauan yang Tak Mudah
Membawa listrik hingga ke wilayah 3T seperti Maratua dan Biduk-Biduk bukanlah perkara sederhana. Kapal pengangkut material hanya bisa bersandar saat pasang tinggi; ketika air surut, seluruh peralatan harus dipindahkan dengan perahu kecil atau dipikul menembus lumpur dan hutan bakau. Tiang-tiang listrik yang menjulang itu pernah digotong beramai-ramai, melewati jalan sempit di antara rawa dan semak yang lembap.
Namun di balik semua kesulitan itu, semangat para petugas PLN tak pernah surut. Mereka menyeberangi laut dengan kapal kayu, berhari-hari meninggalkan keluarga, dan bermalam di rumah warga agar pekerjaan tak tertunda. Di tengah hujan, panas, dan nyamuk pesisir, mereka terus menanam tiang, menarik kabel, dan memastikan cahaya bisa tiba tepat waktu.
“Bagi kami, setiap rumah yang menyala berarti satu harapan baru,” tutur Aditya, teknisi PLN Unit Layanan Pelanggan Berau, sambil mengelap keringat di dahi. “Kami tahu, cahaya yang kami bawa bukan sekadar listrik, tapi bagian dari masa depan mereka.”
Energi yang Mengalirkan Kehidupan
Ratusan kilometer di utara Berau, di tepian Sungai Kayan, kisah lain tentang energi berkeadilan juga menyala.
Tanjung Buyu, sebuah kampung kecil di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, dulu hanya mengenal air dari sumur dangkal dan tadahan hujan. Saat kemarau datang, air menjadi kemewahan, dan warga harus berjalan hampir dua kilometer untuk mengambil air dari sungai yang keruh.
Namun pada 1 Oktober 2025, bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila, air bersih untuk pertama kalinya mengalir ke rumah-rumah warga. “Sejak dulu kami hanya bisa berharap suatu saat ada air bersih yang bisa mengalir ke rumah kami,” ucap Munawar, Ketua RT 08, dengan mata berkaca-kaca. “Hari ini, harapan itu akhirnya nyata. Terima kasih PLN.”
Di balik air yang kini mengalir itu, ada energi listrik yang bekerja tanpa henti, menggerakkan pompa-pompa air berdaya 2.200 watt yang sebelumnya hanya menjadi mimpi. “Air ini tidak akan pernah mengalir tanpa listrik. Dan listrik itu datang dari PLN,” tambah Munawar.
Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN UIP Kalimantan Bagian Timur melalui Unit Pelaksana Proyek Kalimantan Timur 2 menjadi bukti bahwa energi dapat menjadi sumber keadilan.
Pompa-pompa itu kini menyalurkan air bersih bagi 40 kepala keluarga, 172 jiwa yang kini bisa hidup lebih sehat, lebih layak, dan lebih tenang.

Energi Berkeadilan dari Pelosok Negeri
General Manager PLN UIP Kalimantan Bagian Timur, Basuki Widodo, menegaskan bahwa kehadiran listrik tidak berhenti pada tiang dan kabel semata. Lebih dari itu, listrik adalah bentuk kehadiran negara, wujud nyata nilai kemanusiaan.
“Setiap kabel yang kami pasang harus bermakna. Harus sampai pada kehidupan masyarakat. Karena di sanalah nilai sejati dari pembangunan berkeadilan,” ujarnya.
Baginya, energi berkeadilan adalah pengejawantahan dari sila kelima Pancasila — Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Listrik yang menyala di ujung negeri bukan sekadar tanda kemajuan, tetapi simbol bahwa semua warga berhak atas kesempatan yang sama untuk hidup lebih baik.
Senada dengan itu, Jefry Sambara Palelleng, Manager UPP KLT 2, menambahkan bahwa setiap sambungan listrik selalu membawa makna yang lebih besar dari sekadar cahaya.
“Ketika listrik hadir, bukan hanya lampu yang menyala. Kehidupan juga ikut menyala,” katanya.
Kini, listrik yang menggerakkan pompa air di Tanjung Buyu juga memberi napas bagi ekonomi kecil di pelosok.
Beberapa warga mulai membuka warung minuman dingin, usaha cuci pakaian, hingga kios rumahan dengan kulkas sederhana untuk menyimpan hasil kebun.
Di setiap percikan listrik itu, tumbuh harapan baru.
Bagi masyarakat Tanjung Buyu, listrik bukan lagi sekadar penerangan malam hari, ia adalah peluang, kehidupan, dan keadilan yang akhirnya benar-benar terasa.
Cahaya yang Menyatukan
Senja perlahan jatuh di ufuk Berau. Satu per satu lampu nelayan menyala, memantul di permukaan laut yang teduh. Di sebuah rumah kayu di tepi pantai, seorang anak membaca buku di bawah cahaya kuning temaram, sementara sang ayah menambal jaring di beranda.
Ratusan kilometer dari sana, di Tanjung Buyu, air bersih menetes dari keran ke ember kecil di tangan seorang ibu — tanda bahwa hidup kini sedikit lebih ringan.
Dua tempat, dua kisah, satu makna.
Dari laut Maratua hingga sungai Bulungan, dari ombak hingga arus air yang jernih, satu hal yang sama menyatukan mereka: energi yang menghadirkan keadilan.
Program kelistrikan di wilayah 3T bukan sekadar proyek infrastruktur, ia adalah wujud nyata komitmen PLN menghadirkan energi berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dari Maratua hingga Tanjung Buyu, listrik telah menjadi penggerak perubahan: membuka akses pendidikan, menjamin layanan kesehatan, dan menghadirkan air bersih bagi masyarakat.
Cahaya yang kini menerangi rumah-rumah di tepian laut dan pinggir sungai adalah simbol hadirnya negara di setiap sudut kehidupan.
Energi yang mengalir melalui jaringan kabel itu membawa pesan sederhana: bahwa keadilan sosial bukan sekadar cita-cita, melainkan sesuatu yang dapat dirasakan, disentuh, dan dinikmati bersama.
Dan mungkin, di balik setiap cahaya yang berpendar malam ini, tersimpan doa kecil dari pelosok yang jauh: bahwa Indonesia bukan hanya besar karena wilayahnya, tetapi karena cahayanya hadir di setiap rumah, di setiap senyum, di setiap hati yang percaya bahwa keadilan akhirnya menemukan jalannya.












